pariwisata kabupaten malang

Menu

Ribuan Petakziah Iringi Pemakaman KH Maftuh Said, Pengasuh Ponpes Al-Munawariyah Sudimoro-Bululawang

  Dibaca : 350 kali
Ribuan Petakziah Iringi Pemakaman KH Maftuh Said, Pengasuh Ponpes Al-Munawariyah Sudimoro-Bululawang
PEMAKAMMAN KHUSUS: Jenazah KH Maftuh Said dikebumikan di Pemakaman Khusus Ponpes Al-Munawariyah Sudimoro Bululawang. (sur)
space ads post kiri

Malang, MemoX—– Innalilahi wainnaIlaihi raji’un, duka menyelimuti keluarga besar Pondok Pesantren (Ponpes) Al Munawwarriyah Desa Sudimoro, Kecamatan Bulululawang, Kabupaten Malang. KH Maftuh Said (67) Pengasuh Ponpes Al-Munawwarriyah menghembuskan nafas terakhirnya, di kediamannya kawasan Ponpes Al-Munawariyah Sudimoro, Ahad (20/8/2017) pukul 22.30 Wib.

Kabar duka inipun menyelimuti Keluarga Besar PCNU Kabupaten Malang. Pasalnya, KH Maftuh Said, semasa hidupnya masih menjabat Rois Syuriah PCNU setempat.

“Kami sangat kehilangan orang tua yang mampu mengayomi dan memberi teladan bagi kita dan umat,” ungkap Ketua LP Maarif NU Kabupaten Malang, H Abdurrahman, Senin (21/8/2017) pagi.

Sekilas biografi tentang KH MaftuhSaid, lahir di tepian Bengawan Solo, tepatnya di Desa Ngaren, Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik tahun 1950. Tahun 1983, almarhum mendirikan lembaga pendidikan Pondok Pesantren Al Munawwariyyah di Desa Sudimoro, Bululawang, Kabupaten Malang.

Perjuangan dalam merintis pesantren dan lembaga pendidikan Islam Al Munawwariyyah cukup alot dan panjang. Berawal dari belasan santri yang mengaji Alquran hingga saat ini sukses mendirikan lima lembaga SD, SMP, SMA, SMK Madrasah Islamiyah dan Tarbiyatul Qur’an Al-Munawwariyyah. Kini, alumni Al-Munawwariyyah sudah tersebar ke seantero Nusantara dan bahkan banyak yang kini melanjutkan studi di Timur Tengah.

“Kesuksesan pembangunan ini cuma berpedoman pada ‘kurdi’, kepanjangan dari sukur dadi (yang penting jadi–red),” ujar Kiai Maftuh dalam berbagai kesempatan.

Keluarga KH Maftuf Said memang tergolong usratul huffadz, yaitu keluarga para penghafal Aquran. Ayahnya KH Said, memang sangat keras ketika mendidik putra-putrinya dalam menghafal Alquran. Hasilnya, 13 bersaudara Kyai Maftuh mampu menghafal Alquran 30 juz. Julukan sang ayah sebagai Asadul Quran atau harimaunya Alquran juga menurun kepada Kyai Maftuf ketika mengajarkan hafalan Alquran.

Metode tahfidzil Quran KH Said menginspirasi para pengasuh pondok se-Indonesia untuk memohon doa restu dan izin untuk membuka lembaga penghapal Alquran di berbagai tempat. Salah satunya adalah Pengasuh PP Al-Amin, KH Mohammad Idris Djauhari, pengasuh Ma’had Tahfidz Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura.

Setelah menikah dengan Nyai Hj Marfuatun, putri alm KH Mahfudz, Kepanjen Kabupaten Malang, KH Maftuh muda tinggal bersama sang mertua. Selanjutnya, pada pertengahan tahun 1980-an, bersama ketiga putra-putrinya, Nurul Hafshah, Muhammad Agus Fahim dan Hanifah Sa’diyyah, keluarga itu hijrah ke desa Sudimoro.

Seiring dengan berjalannya waktu, banyak masyarakat yang ingin menitipkan putra putrinya untuk dididik membaca dan menghafal Alquran. Nama KH. Maftuh pendidik membaca dan menghafal Alquran kemudian tersebar bukan hanya di daerah Malang, tapi hampir seluruh pelosok Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan terus bertambahnya para santri dari seluruh penjuru Nusantara.

Jenazah KH Maftuh Said dikebumikan di komplek pemakaman khusus keluarga ‘Ponpes Al-Munawariyah Senen (21/8/2017) pukul 10.00 Wib. (sur/yan)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional